Hamasa Indonesia
Ketika kau merasa hidupmu dipenuhi dengan kesusahan, maka ketahuilah akan ada kemudahan dan kebahagiaan dibalik rasa susah itu. tenang dan percayalah bahwa Allah bersama hamba-hambaNya yang sabar. Jadi, nikmat Rabmu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Kamis, 09 Juni 2016
Minggu, 05 Juni 2016
Hukum Jual Beli - Fiqh Muamalah II
HUKUM
JUAL BELI
Makalah
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah: Fiqh Muamalah 2
Dosen
Pengampu: Khairiah Elwardah, M.Ag.
Disusun
Oleh
Kelompok
1 PBS 4A/P1.I
1.
Ahmad
Muzakky
2.
Mar’atul
Khayati
3.
Vera
Anggraini
|
PROGRAM
STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN
EKONOMI ISLAM
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL................................................................................... i
KATA
PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR
ISI................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Jual Beli..................................................................................... 3 B. Dasar Hukum Jual Beli................................................................................ 4
C. Rukun dan Syarat Jual Beli.......................................................................... 5
D. Beli ditinjau dari Segi Hukum....................................................................... 7
E. Jual Beli ditinjau dari Bentuknya................................................................... 9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................. 10 B. Saran.......................................................................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah disamping sebagai makhluk
individu juga sebagai makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup
tanpa orang lain. Supaya kepentingan manusia yang begitu banyak itu saling
terpenuhi maka dibutuhkan norma dan aturan-aturan. Sehingga dengan norma
ataupun aturan-aturan tersebut kehidupan masyarakat akan berjalan beraturan
terhindar dari sikap mendzolimi orang lain dan menempuh jalan batil dalam usaha
mencari rizki.
Atas dasar pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maka
terjadilah suatu kegiatan yang di namakan jual beli. Jual beli menurut bahasa
artinya menukar sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut syara’ artinya menukar
harta dengan harta menurut cara-cara tertentu (‘aqad).
Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama
sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi
dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap
sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat
universal dan komprehensif. Melihat paparan di atas dengan realita yang ada
bahwa masih banyak transaksi jual beli yang tidak semestinya, penulis akan
menjelaskan lebih lanjut mengenai jual beli dan hukumnya dalam makalah.
B.
Rumusan Masalah
- Apakah pengertian jual beli?
- Bagaimanakah dasar hukum dalam jual beli?
- Bagaimanakah rukun dan syarat jual beli?
- Bagaimanakah jual beli ditinjau dari hukumnya?
- Bagaimanakah jual beli ditinjau dari bentuknya?
C.
Tujuan
- Untuk mengetahui pengertian jual beli.
- Untuk mengetahui dasar hukum dalam jual beli.
- Untuk mengetahui rukun dan syarat jual beli.
- Untuk mengetahui jual beli ditinjau dari hukumnya.
- Untuk mengetahui jual beli ditinjau dari bentuknya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Jual beli
Jual beli dalam istilah
fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar
sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al-bai’ dalam bahasa Arab terkandung
digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata asy-syira’ (beli). Degan
demikian, kata al-bai’ berarti jual, tetapi sekalius jual berarti beli.
Secara terminologi,
terdapat beberapa definisi jual beli yang dikemukakan ulama fiqh, sekalipun
substansi dan tujuan masing-masing definisi adalah sama.
Ulama
Hanafiyah mendefinisikan jual beli sebagai
مُباَ دَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ
“Saling menukar harta dengan
harta melalui cara tertentu”, atau
مُباَ دَلَةُ شَيْئٍ مَرْغُوْبٍ فِيْهِ عَلَى وَجْهٍ
مُفِيْدٍ مَخْصُوْصٍ
“Tukar menukar
sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang
bermanfaat”.
Dalam
definisi ini terkandung pengertian bahwa cara yang khusus yang dimaksudkan
ulama Hanafiyah adalah melalui ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul
(pernyataan menjual dari penjual), atau juga boleh melalui saling memberikan
barang dan harga dari penjual dan pembeli.[1]
Definisi lain dikemukakan oleh ulama
Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Menurut mereka, jual beli adalah
مُباَ دَلَةُ الْمَالِ بِالْمَالِ تَمْلِيْكًا وَ
تَمَلُّكًا
“Saling menukar
harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan”.
Dalam
definisi diatas, ditekankan kepada “hak milik dan pemilikan”, sebab ada tukar-menukar
harta yang sifatnya tidak harus dimiliki seperti sewa-menyewa.[2]
Sederhananya jual beli adalah suatu transaksi atau kegiatan yang
dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang
dengan harga yang disepakatinya.
B.
Dasar Hukum Jual
Beli
Jual beli sebagai
sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat
dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Terdapat sejumlah ayat Al-Qur’an
yang berbicara tentang jual beli, di antaranya dalam surat Al-Baqarah, 2:275
yang berbunyi[3]
Kemudian dalam
surat Al-Baqarah, 2:198 juga disebutkan
Dari ayat di atas,
disambungkanlah dalam surat An-Nisaa’, 4:29 berikut
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu. (An-Nisaa’, 4:29)
Dasar hukum jual beli dalam sunnah Rasulullah Saw. di antaranya disebutkan dalam hadis dari Rifa’ah ibn Rafi’
bahwa
سُئِلَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ عَمَلُ
الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ (رواه البزار والحا كم)
“Nabi Muhammad Saw. pernah ditanya: Apakah profesi yang paling
baik ? Rasulullah menjawab: Usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual-beli
yang diberkati ”. (HR.Al-Barzaar dan Al-Hakim)
Dari kandungan ayat-ayat Allah dan
sabda Rasulullah, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli
itu adalah mubah (boleh).[4]
C.
Rukun
dan Syarat Jual Beli
Jual beli
mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dapat
dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat perbedaan
pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah
hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul (ungkapan
menjual dari penjual) serta adanya kerelaan dalam jual beli diantara keduanya.
Akan tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat, yaitu:[5]
1.
Ada orang yang berakad al-muta’aqidain
(penjual dan pembeli)
2.
Ada sighat (lafal ijab dan
qabul)
3.
Ada barang yang dibeli
4.
Ada nilai tukar pengganti barang
Menurut jumhur ulama, syarat jual beli sesuai dengan
rukun jual beli yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut
1.
Syarat orang yang berakad (penjual
dan pembeli)
Ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad
jual beli harus memenuhi syarat:
a.
Berakal
b.
Dengan kehendak sendiri (bukan
paksaan).
c.
Baligh
2.
Syarat yang terkait dengan ijab qabul
a.
Orang yang mengucapkan ijab qabul
telah akil baligh dan berakal menurut jumhur ulama atau telah berakal menurut
ulama Hanafiyah
b.
Qabul sesuai dengan ijab
c.
Ijab dan qabul dilakukan dalam satu
majelis
3.
Syarat yang diperjualbelikan
a.
Barang itu ada, atau barang itu tidak ada di tempat,
tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang
tersebut.
b.
Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.
c.
Milik seseorang. Barang yang sifatnya belum dimiliki seseorang
tidak boleh diperjualbelikan.
d.
Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada
waktu yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.
e.
Suci. Barang najis
tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan, seperti kulit
binatang atau bangkai yang belum disembelih
4.
Syarat nilai tukar (harga barang)
a.
Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
b.
Dapat diserahkan pada saat akad (transaksi), sekalipun
secara hukum seperti pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila barang
itu dibayar kemudian (berhutang), maka waktu pembayarannya harus jelas.
c.
Apabila jual beli dilakukan secara barter,
maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan syara’.
Di samping syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas, ulama fiqh juga mengemukakan beberapa syarat lain:[6]
1.
Syarat sah jual beli
a.
Jual beli terhindar dari cacat seperti barang yang
diperjualbelikan tidak jelas, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya.
b.
Apabila barang yang
diperjual-belikan itu benda bergerak, maka barang itu langsung dikuasai pembeli
dan harga dikuasai penjual. Sedangkan barang yang tidak bergerak, dapat dikuasai
pembeli setelah surat-menyuratnya diselesaikan sesuai dengan kebiasaan (عُرْفٌ) setempat.
2.
Syarat yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli,
baik penjual maupun pembeli, yaitu:
a.
Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan
ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan.
b.
Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual
beli, yakni dia adalah seorang mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam
mengatur uang).
3.
Syarat benda (barang) yang menjadi objek akad
a.
Barang tersebut suci. Akan tidak sah penjualan
benda-benda najis
b.
Memberi manfaat menurut syara’
c.
Tidak dibatasi waktunya
d.
Dapat diserahkan dengan cepat ataupun lambat
e.
Milik sendiri
f.
Diketahui barang yang diperjual belikan tersebut baik
berat, jumlah, takaran dan lain-lainnya.
D.
Jual Beli Ditinjau
dari Segi Hukum
Jual beli dinyatakan sah atau tidak
sah bergantung pada pemenuhan syarat dan rukun jual beli yang telah dijelaskan
di atas. Dari sudut pandang ini, jumhur ulama membaginya menjadi, yaitu:
1. Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
2. Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli, dan ini tidak diperkenankan oleh syara’, misalnya:
1. Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
2. Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli, dan ini tidak diperkenankan oleh syara’, misalnya:
a.
Jual beli atas barang yang tidak ada
( bai’ al-ma’dum ), seperti jual beli janin di dalam perut ibu dan jual beli
buah yang tidak tampak.
b.
Jual beli barang yang zatnya haram
dan najis, seperti babi, bangkai dan khamar.
c.
Jual beli bersyarat, yaitu jual beli
yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada
kaitannya dengan jual beli.
d.
Jual beli yang menimbulkan
kemudharatan, seperti jual beli patung, salib atau buku-buku bacaan porno.
e.
Segala bentuk jual beli yang
mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang
masih bergantung pada induknya.[7]
3. Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak
bertentangan dengan syara’ namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi
keabsahannya, misalnya:
a.
Jual beli barang yang wujudnya ada,
namun tidak dihadirkan ketika berlangsungnya akad.
b.
Jual beli dengan menghadang dagangan
di luar kota atau pasar, yaitu menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar
dapat membelinya dengan harga murah
c.
Membeli barang dengan memborong
untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang
tersebut.
d.
Jual beli barang rampasan atau
curian.
e.
Menawar barang yang sedang ditawar
orang lain.[8]
E.
Jual Beli
Ditinjau dari Bentuknya[9]
1.
Ditinjau dari sisi objek akad ba’i
yang menjadi:
a.
Tukar-menukar uang dengan barang.
Ini bentuk ba’i berdasarkan konotasinya. Misalnya: tukar-menukar mobil dengan
rupiah.
b.
Tukar-menukar barang dengan barang,
disebut juga dengan muqayadhah (barter). Misalnya tukar-menukar buku
dengan jam.
c.
Tukar-menukar uang dengan uang,
disebut juga dengan sharf. Misalnya: tukar-menukar rupiah dengan real.
2.
Ditinjau dari sisi waktu serah
terima, ba’i dibagi menjadi empat bentuk:
a.
Barang dan uang serah terima dengan
tunai. Ini bentuk asal ba’i.
b.
Uang dibayar di muka dan barang
menyusul pada waktu yang disepakati, ini dinamakan salam.
c.
Barang diterima dimuka dan uang
menyusul, disebut dengan ba’i ajal (jual beli tidak tunai). Misalnya
jual beli kredit.
d.
Barang dan uang tidak tunai, disebut
ba’i dain bi dain (jual beli utang dengan utang).
3.
Ditinjau dari cara menetapkan harga,
ba’i dibagi menjadi:
a.
Ba’i musawamah (jual beli
dengan cara tawar-menawar), yaitu jual beli dimana pihak penjual tidak
menyebutkan harga pokok barang, akan tetapi menetapkan harga tertentu dan
membuka peluang untuk ditawar. Ini bentuk asal ba’i.
b.
Ba’i amanah, yaitu jual
beli dimana pihak penjual menyebutkan harga pokok barang lalu menyebutkan harga
jual barang tesebut. Ba’i jenis ini terbagi lagi menjadi 3 bagian yaitu:
c.
Ba’i murabahah, yaitu pihak
penjual menyebutkan harga pokok barang dan laba.
d.
Ba’i al-wadh’iyyah, yaitu pihak
penjual menyebutkan harga pokok barang atau menjual barang tersebut dibawah
harga pokok.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mengenai pembahasan jual beli,
penulis mengambil kesimpulan bahwa pengertian dari jual beli ini adalah suatu transaksi atau kegiatan yang
dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang
dengan harga yang disepakatinya. Lalu dari kandungan ayat-ayat Allah dan
sabda Rasulullah, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli
itu adalah mubah (boleh).
Jual beli juga mempunyai rukun dan syarat yang
harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam
menentukan rukun jual beli terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan
jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu
ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari
penjual) serta adanya kerelaan dalam jual beli diantara keduanya. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat
yaitu, ada orang yang berakad al-muta’aqidain (penjual dan pembeli), ada sighat
(lafal ijab dan qabul), ada barang yang dibeli, ada nilai tukar pengganti
barang.
Namun dalam praktiknya, ada jual
beli yang sebenarnya secara bentuk dan tata caranya dia diperbolehkan, tetapi
karena sebab-sebab tertentu dia menjadi rusak, hal ini disebut dengan jual beli
fasid. Jadi intinya segala jual beli bisa dikatakan sah apabila ia memenuhi
syaarat dan rukun serta ia bukanlah jual beli yang fasid melainkan jual beli
yang sahih.
B. Saran
Dari pembahasan ini
penulis berharap kepada mahasiswa/mahasiswi dan pembaca, kiranya dapat memahami
bagaimana hukum jual beli dalam Islam. Kemudian kita bersama-sama haruslah
memberikan pemahaman kepada masyarakat awam bagaimanakah hukum jual beli
tersebut dalam Islam agar tidak terjadi kekeliruan dalam praktiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Haroen, Nasrun. 2000. Fiqh Muamalah. Jakarta:
Gaya Media Pratama
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah.
Jakarta: Kencana
Rosana, Mayang. Makalah Fiqh Muamalah tentang Jual
Beli dalam Islam, http://materi-kuliah0420.blogspot.co.id/2015/04/makalah-fiqh-muamalah
-tentang- jual-beli.html. Diakses pada 22 Maret 2015.
[1]Nasrun
Haroen , Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 111.
[2]Ibid, hlm. 112.
[3]Ibid, hlm. 113.
[4]Ibid, hlm. 114.
[5]Ibid, hlm. 115.
[6]Ibid, hlm. 115-118.
[7]Mayang
Rosana, Makalah Fiqh Muamalah tentang Jual Beli dalam Islam, http://materi-kuliah0420.blogspot.co.id/2015/04/makalah-fiqh-muamalah-tentang-jual-beli.html,
diakses pada 22 Maret 2015.
[8]Ibid.
[9]Mardani, Fiqh
Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 108
Langganan:
Postingan (Atom)



