Minggu, 05 Juni 2016

Hukum Jual Beli - Fiqh Muamalah II

According R.A. Kartini, that Live is Never Stop Struggle. So Don't be Worry, Just Keep Hamasa. We Can Do it. Allah With Us.


HUKUM JUAL BELI
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah: Fiqh Muamalah 2
Dosen Pengampu: Khairiah Elwardah, M.Ag.
  
                                                                                 


Disusun Oleh
Kelompok 1 PBS 4A/P1.I
1.         Ahmad Muzakky
2.         Mar’atul Khayati
3.         Vera Anggraini

  
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI  BENGKULU







DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................       i
KATA PENGANTAR..................................................................................      ii
DAFTAR ISI................................................................................................      ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................     1

B. Rumusan Masalah.......................................................................................     1
C. Tujuan........................................................................................................     2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Jual Beli.....................................................................................     3 
B. Dasar Hukum Jual Beli................................................................................     4

C. Rukun dan Syarat Jual Beli..........................................................................     5
D. Beli ditinjau dari Segi Hukum.......................................................................     7 
E. Jual Beli ditinjau dari Bentuknya...................................................................     9

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................    10
B. Saran..........................................................................................................    10

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah disamping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial yang artinya manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Supaya kepentingan manusia yang begitu banyak itu saling terpenuhi maka dibutuhkan norma dan aturan-aturan. Sehingga dengan norma ataupun aturan-aturan tersebut kehidupan masyarakat akan berjalan beraturan terhindar dari sikap mendzolimi orang lain dan menempuh jalan batil dalam usaha mencari rizki.
Atas dasar  pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maka terjadilah suatu kegiatan yang di namakan jual beli. Jual beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut syara’ artinya menukar harta dengan harta menurut cara-cara tertentu (‘aqad).
Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan komprehensif. Melihat paparan di atas dengan realita yang ada bahwa masih banyak transaksi jual beli yang tidak semestinya, penulis akan menjelaskan lebih lanjut mengenai jual beli dan hukumnya dalam makalah.

B.     Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian jual beli?
  2. Bagaimanakah dasar hukum dalam jual beli?
  3. Bagaimanakah rukun dan syarat jual beli?
  4. Bagaimanakah jual beli ditinjau dari hukumnya?
  5. Bagaimanakah jual beli ditinjau dari bentuknya?

C.    Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengertian jual beli.
  2. Untuk mengetahui dasar hukum dalam jual beli.
  3. Untuk mengetahui rukun dan syarat jual beli.
  4.  Untuk mengetahui jual beli ditinjau dari hukumnya.
  5. Untuk mengetahui jual beli ditinjau dari bentuknya.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jual beli
Jual beli dalam istilah fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Lafal al-bai’ dalam bahasa Arab terkandung digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata asy-syira’ (beli). Degan demikian, kata al-bai’ berarti jual, tetapi sekalius jual berarti beli.
Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang dikemukakan ulama fiqh, sekalipun substansi dan tujuan masing-masing definisi adalah sama.
Ulama Hanafiyah mendefinisikan jual beli sebagai
مُباَ دَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ
“Saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu”, atau
مُباَ دَلَةُ شَيْئٍ مَرْغُوْبٍ فِيْهِ عَلَى وَجْهٍ مُفِيْدٍ مَخْصُوْصٍ
“Tukar menukar sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat”.
Dalam definisi ini terkandung pengertian bahwa cara yang khusus yang dimaksudkan ulama Hanafiyah adalah melalui ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul (pernyataan menjual dari penjual), atau juga boleh melalui saling memberikan barang dan harga dari penjual dan pembeli.[1]
Definisi lain dikemukakan oleh ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Menurut mereka, jual beli adalah
مُباَ دَلَةُ الْمَالِ بِالْمَالِ تَمْلِيْكًا وَ تَمَلُّكًا
“Saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan”.
Dalam definisi diatas, ditekankan kepada “hak milik dan pemilikan”, sebab ada tukar-menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki seperti sewa-menyewa.[2]
Sederhananya jual beli adalah suatu transaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang dengan harga yang disepakatinya.

B.     Dasar Hukum Jual Beli
Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Terdapat sejumlah ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang jual beli, di antaranya dalam surat Al-Baqarah, 2:275 yang berbunyi[3]
 


Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Kemudian dalam surat Al-Baqarah, 2:198 juga disebutkan 

 


Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.
 Dari ayat di atas, disambungkanlah dalam surat An-Nisaa’, 4:29 berikut



kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (An-Nisaa’, 4:29)
Dasar hukum jual beli dalam sunnah Rasulullah Saw. di antaranya disebutkan dalam hadis dari Rifa’ah ibn Rafi’ bahwa
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ (رواه البزار والحا كم)
“Nabi Muhammad Saw. pernah ditanya: Apakah profesi yang paling baik ? Rasulullah menjawab: Usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual-beli yang diberkati ”. (HR.Al-Barzaar dan Al-Hakim)
Dari kandungan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli itu adalah mubah (boleh).[4]

C.    Rukun dan Syarat Jual Beli
Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari penjual) serta adanya kerelaan dalam jual beli diantara keduanya. Akan tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat, yaitu:[5]
1.         Ada orang yang berakad al­-muta’aqidain  (penjual dan pembeli)
2.         Ada sighat (lafal ijab dan qabul)
3.         Ada barang yang dibeli
4.         Ada nilai tukar pengganti barang
Menurut jumhur ulama, syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut
1.         Syarat orang yang berakad (penjual dan pembeli)
Ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli harus memenuhi syarat:
a.        Berakal
b.       Dengan kehendak sendiri (bukan paksaan).
c.        Baligh
2.         Syarat yang terkait dengan ijab qabul
a.        Orang yang mengucapkan ijab qabul telah akil baligh dan berakal menurut jumhur ulama atau telah berakal menurut ulama Hanafiyah
b.       Qabul sesuai dengan ijab
c.        Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis
3.         Syarat yang diperjualbelikan
a.        Barang itu ada, atau barang itu tidak ada di tempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang tersebut.
b.       Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.
c.        Milik seseorang. Barang yang sifatnya belum dimiliki seseorang tidak boleh diperjualbelikan.
d.       Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.
e.        Suci. Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disembelih
4.         Syarat nilai tukar (harga barang)
a.        Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
b.       Dapat diserahkan pada saat akad (transaksi), sekalipun secara hukum seperti pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila barang itu dibayar kemudian (berhutang), maka waktu pembayarannya harus jelas.
c.        Apabila jual beli dilakukan secara barter, maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan syara’.
Di samping syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas, ulama fiqh juga mengemukakan beberapa syarat lain:[6]
1.         Syarat sah jual beli
a.       Jual beli terhindar dari cacat seperti barang yang diperjualbelikan tidak jelas, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya.
b.      Apabila barang yang diperjual-belikan itu benda bergerak, maka barang itu langsung dikuasai pembeli dan harga dikuasai penjual. Sedangkan barang yang tidak bergerak, dapat dikuasai pembeli setelah surat-menyuratnya diselesaikan sesuai dengan kebiasaan (عُرْفٌ) setempat.
2.         Syarat yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu:
a.       Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan.
b.      Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli, yakni dia adalah seorang mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang).
3.         Syarat benda (barang) yang menjadi objek akad
a.        Barang tersebut suci.  Akan tidak sah penjualan benda-benda najis
b.       Memberi manfaat menurut syara’
c.        Tidak dibatasi waktunya
d.       Dapat diserahkan dengan cepat ataupun lambat
e.        Milik sendiri
f.        Diketahui barang yang diperjual belikan tersebut baik berat, jumlah, takaran dan lain-lainnya.

D.    Jual Beli Ditinjau dari Segi Hukum
Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat dan rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. Dari sudut pandang ini, jumhur ulama membaginya menjadi, yaitu:  
1. Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya. 
2. Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli, dan ini tidak diperkenankan oleh syara’, misalnya:
a.       Jual beli atas barang yang tidak ada ( bai’ al-ma’dum ), seperti jual beli janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak.
b.      Jual beli barang yang zatnya haram dan najis, seperti babi, bangkai dan khamar.
c.       Jual beli bersyarat, yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli.
d.      Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, seperti jual beli patung, salib atau buku-buku bacaan porno.
e.       Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih bergantung pada induknya.[7]  
3. Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara’ namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya, misalnya:
a.       Jual beli barang yang wujudnya ada, namun tidak dihadirkan ketika berlangsungnya akad.
b.      Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota atau pasar, yaitu menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga murah
c.       Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut.
d.      Jual beli barang rampasan atau curian.
e.       Menawar barang yang sedang ditawar orang lain.[8]

E.     Jual Beli Ditinjau dari Bentuknya[9]
1.         Ditinjau dari sisi objek akad ba’i yang menjadi:
a.       Tukar-menukar uang dengan barang. Ini bentuk ba’i berdasarkan konotasinya. Misalnya: tukar-menukar mobil dengan rupiah.
b.      Tukar-menukar barang dengan barang, disebut juga dengan muqayadhah (barter). Misalnya tukar-menukar buku dengan jam.
c.       Tukar-menukar uang dengan uang, disebut juga dengan sharf. Misalnya: tukar-menukar rupiah dengan real.
2.         Ditinjau dari sisi waktu serah terima, ba’i dibagi menjadi empat bentuk:
a.       Barang dan uang serah terima dengan tunai. Ini bentuk asal ba’i.
b.      Uang dibayar di muka dan barang menyusul pada waktu yang disepakati, ini dinamakan salam.
c.       Barang diterima dimuka dan uang menyusul, disebut dengan ba’i ajal (jual beli tidak tunai). Misalnya jual beli kredit.
d.      Barang dan uang tidak tunai, disebut ba’i dain bi dain (jual beli utang dengan utang).
3.         Ditinjau dari cara menetapkan harga, ba’i dibagi menjadi:
a.       Ba’i musawamah (jual beli dengan cara tawar-menawar), yaitu jual beli dimana pihak penjual tidak menyebutkan harga pokok barang, akan tetapi menetapkan harga tertentu dan membuka peluang untuk ditawar. Ini bentuk asal ba’i.
b.      Ba’i amanah, yaitu jual beli dimana pihak penjual menyebutkan harga pokok barang lalu menyebutkan harga jual barang tesebut. Ba’i jenis ini terbagi lagi menjadi 3 bagian yaitu:
c.       Ba’i murabahah, yaitu pihak penjual menyebutkan harga pokok barang dan laba.
d.      Ba’i al-wadh’iyyah, yaitu pihak penjual menyebutkan harga pokok barang atau menjual barang tersebut dibawah harga pokok.
e.       Ba’i tauliyah, yaitu penjual menyebutkan harga pokok dan menjualnya dengan harga tersebut.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Mengenai pembahasan jual beli, penulis mengambil kesimpulan bahwa pengertian dari jual beli ini adalah suatu transaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang dengan harga yang disepakatinya. Lalu dari kandungan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal dari jual beli itu adalah mubah (boleh).
Jual beli juga mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi, sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan qabul (ungkapan menjual dari penjual) serta adanya kerelaan dalam jual beli diantara keduanya. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat yaitu, ada orang yang berakad al­-muta’aqidain  (penjual dan pembeli), ada sighat (lafal ijab dan qabul), ada barang yang dibeli, ada nilai tukar pengganti barang.
Namun dalam praktiknya, ada jual beli yang sebenarnya secara bentuk dan tata caranya dia diperbolehkan, tetapi karena sebab-sebab tertentu dia menjadi rusak, hal ini disebut dengan jual beli fasid. Jadi intinya segala jual beli bisa dikatakan sah apabila ia memenuhi syaarat dan rukun serta ia bukanlah jual beli yang fasid melainkan jual beli yang sahih.

B.     Saran
Dari pembahasan ini penulis berharap kepada mahasiswa/mahasiswi dan pembaca, kiranya dapat memahami bagaimana hukum jual beli dalam Islam. Kemudian kita bersama-sama haruslah memberikan pemahaman kepada masyarakat awam bagaimanakah hukum jual beli tersebut dalam Islam agar tidak terjadi kekeliruan dalam praktiknya.



DAFTAR PUSTAKA

Haroen, Nasrun. 2000. Fiqh Muamalah. Jakarta: Gaya Media Pratama
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah.  Jakarta: Kencana
Rosana, Mayang. Makalah Fiqh Muamalah tentang Jual Beli dalam Islam, http://materi-kuliah0420.blogspot.co.id/2015/04/makalah-fiqh-muamalah -tentang- jual-beli.html. Diakses pada 22 Maret 2015.



[1]Nasrun Haroen , Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm. 111.
[2]Ibid,  hlm. 112.
[3]Ibid,  hlm. 113.
[4]Ibid,  hlm. 114.
[5]Ibid,  hlm. 115.
[6]Ibid,  hlm. 115-118.
[7]Mayang Rosana, Makalah Fiqh Muamalah tentang Jual Beli dalam Islam, http://materi-kuliah0420.blogspot.co.id/2015/04/makalah-fiqh-muamalah-tentang-jual-beli.html, diakses pada 22 Maret 2015.
[8]Ibid.
[9]Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 108